Minggu, 07 September 2014

Mudik : Perjalanan Panjang Kaum Urban Indonesia

Kecelakaan yang marak terjadi. sumber: dokumen pribadi

truk yang nyungsep ke dalam hutan


Walaupun sudah berlalu agak lama momeni ni, tetapi penulis tetap tergelitik untuk menuliskan dan membagi pikiran-pikiran penulis pada khayalak semua. Karena mudik adalah salh satu momen penting, yang ditunggu sejuta umat di Indonesia.

Mudik, adalah budaya yang mengakar pada muslim Indonesia, dimana mereka yang merantau jauh dari tanah kelahiran pulang untuk sungkem setiap Hari Raya Lebaran. Momen ini juga di tunggu oleh anak-anak yang sudah kengen dengan saudara-saudara jauhnya ataupun para orang tua yang sudah uzur untuk melihat buah hati dan cucu-cucu mereka berkumpul meramaikan rumah yang sepi sepanjang tahun. Tentu dengan bumbu-bumbu parahnya kepadatan lalu lintas dan meningkatnya jumlah kecelakaan di jalan secara drastis disbanding hari-hari biasa.

Sebagai salah satu momen yang menasional, sudah barang tentu momen mudik ini mennjadi salah satu wajah budaya di Indonesia, terlebih dengan meningkatnya angka para perantau yang mengadu nasib di Jakarta, terlepas dari berhasil atau tidaknya mereka menundukkan ‘kerasnya’ ibukota.
Sebagai salah seorang anak para perantau, saya mencoba menggali kelebihan dan kekurangan mudik ini lebih dalam. Pertama, kebanyakan penduduk Indonesia menganggap mudik sebagai penjalin tali silaturahim antara keluarga, kerabat, atau saudara-saudara dekat. Hal ini bisa kita lihat di banyak daerah ketika usai shalat Ied bersama dilakukan kegiatan keliling kampung guna mengunjungi tetangga-tetangga lama atau sanak kerabat yang dekat. Setelah 2 atau 3 hari setelah lebaran, para pemudik sering kali berkeliling ke kampung-kampung yang lebih jauh untuk mengunjungi kerabat-kerabat atau para sesepuh  yang telah uzur. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa hal ini tidak dilakukan di lain waktu? Bukankah sudah menjadi kewajiban dalam agama untuk menyambung  tali silaturahim?

Momen yang tepat, begitu jawab beberapa orang. Beberapa mengatakan mereka tak punya waktu lain, selain pada saat lebaran tersebut. namun sungguh sesuatu yang naif ketika mereka yang mengaku sibuk masih bisa meluangkan waktu untuk piknik bersama kantor, bermain outdoor, atau reuni-reuni kawan sealmamater. Padahal sudah jelas bahwa yang paling di nanti oleh para orang tua bukanlah kiriman ptotngan gaji, tetapi kehadiran sang anak yang kini sudah pergi jauh. Mengapa tak meluangkan sehari atau dua hari dalam sebulan, dan hal ini pun bisa menjadi momen yang menyanengkan bagi para cucu untuk mengenal kakek dan neneknya? Alasan ini penulis anggap sebagai alas an yang kurang logis.

Selain alasan diatas ada lagi alasan yang lebih klise. Uang. Kekurangan uang untuk mudik, sehingga harus  menunggusetahun atau bahkan 2 tahun untuk pulang kampung. Biaya yang banyak untuk modal transport berikut oleh - oleh untuk tetangga di rumah menjadi alasan yang tak kalah penting. Dalam hal ini saya sendiri menjadi berpikir. Di tengah derasnya arus urbanisasi, mereka memilih untuk tinggal di kota dibanding tinggal di kampung halaman. Lapangan kerja makin sempit, teriak mereka. Uang saja masih pas-pasan untuk hidup, apalagi buat pulang kampung sering-sering, keluh yang lain. Memang telah menjadi fakta di dalam pernak-pernik problema Indonesia tentang tingginya arus pindah “para perantau’ yang berbanding lurus dengan meneyempitnya lapangan kerja di kota.menyelesaikan masalah ketimpangan kepadatan penduduk ini sudah barang tentu menjadi tugas para pejabat kita yang terhormat unutk mengmbil kebijkan-kebijakan yang bermutu. Jika hal ini bisa diatasi, rasanya bukan lagi menjadi mimpi melihat jalanan antar provinsi yang lancar setiap tahun.

Apapun yang terjadi, baik di lingkup masyarakat urban maupun para birokrasi di tempat masing-masing, perantau adalah perantau. Mereka memilih  yang untuk mengadukan peruntungan harus bersiap juga mengahdapi kenyataan, walaupun harus ditebus dengan tak berpulang-pulang berbulan-bulan ke kampung tercinta. Sehingga mudik, dianggap momen sakral bagi para kaum urban untuk melepas penat sejenak dari kerja keras kehidupan di kota, menuju pelukan kedua orang tua yang damai nan menentramkan. Penulis hanya membayangkan, jika mudik yang bahkan sudah dianggap budaya bagi sebagian orang ini dihilangkan, turut menghilang juga angka-angka kecelakaan yang fantastis, tingginya volume kendaraan tiap tahun, juga anggaran perbaikan jalan yang rutin digelontorkan pemerintah untuk membenahi jalan. Mungkinkah? 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar