| Kecelakaan yang marak terjadi. sumber: dokumen pribadi |
| truk yang nyungsep ke dalam hutan |
Walaupun sudah berlalu agak lama momeni ni, tetapi penulis
tetap tergelitik untuk menuliskan dan membagi pikiran-pikiran penulis pada
khayalak semua. Karena mudik adalah salh satu momen penting, yang ditunggu
sejuta umat di Indonesia.
Mudik, adalah budaya yang mengakar pada muslim Indonesia,
dimana mereka yang merantau jauh dari tanah kelahiran pulang untuk sungkem setiap Hari Raya Lebaran. Momen
ini juga di tunggu oleh anak-anak yang sudah kengen dengan saudara-saudara
jauhnya ataupun para orang tua yang sudah uzur untuk melihat buah hati dan
cucu-cucu mereka berkumpul meramaikan rumah yang sepi sepanjang tahun. Tentu
dengan bumbu-bumbu parahnya kepadatan lalu lintas dan meningkatnya jumlah
kecelakaan di jalan secara drastis disbanding hari-hari biasa.
Sebagai salah satu momen yang menasional, sudah barang tentu
momen mudik ini mennjadi salah satu wajah budaya di Indonesia, terlebih dengan
meningkatnya angka para perantau yang mengadu nasib di Jakarta, terlepas dari
berhasil atau tidaknya mereka menundukkan ‘kerasnya’ ibukota.
Sebagai salah seorang anak para perantau, saya mencoba
menggali kelebihan dan kekurangan mudik ini lebih dalam. Pertama, kebanyakan
penduduk Indonesia menganggap mudik sebagai penjalin tali silaturahim antara
keluarga, kerabat, atau saudara-saudara dekat. Hal ini bisa kita lihat di
banyak daerah ketika usai shalat Ied bersama dilakukan kegiatan keliling
kampung guna mengunjungi tetangga-tetangga lama atau sanak kerabat yang dekat.
Setelah 2 atau 3 hari setelah lebaran, para pemudik sering kali berkeliling ke
kampung-kampung yang lebih jauh untuk mengunjungi kerabat-kerabat atau para sesepuh yang telah uzur. Yang menjadi pertanyaan
adalah, mengapa hal ini tidak dilakukan di lain waktu? Bukankah sudah menjadi
kewajiban dalam agama untuk menyambung
tali silaturahim?
Momen yang tepat, begitu jawab beberapa orang. Beberapa
mengatakan mereka tak punya waktu lain, selain pada saat lebaran tersebut.
namun sungguh sesuatu yang naif ketika mereka yang mengaku sibuk masih bisa
meluangkan waktu untuk piknik bersama kantor, bermain outdoor, atau reuni-reuni
kawan sealmamater. Padahal sudah jelas bahwa yang paling di nanti oleh para
orang tua bukanlah kiriman ptotngan gaji, tetapi kehadiran sang anak yang kini
sudah pergi jauh. Mengapa tak meluangkan sehari atau dua hari dalam sebulan,
dan hal ini pun bisa menjadi momen yang menyanengkan bagi para cucu untuk
mengenal kakek dan neneknya? Alasan ini penulis anggap sebagai alas an yang
kurang logis.
Selain alasan diatas ada lagi alasan yang lebih klise. Uang.
Kekurangan uang untuk mudik, sehingga harus
menunggusetahun atau bahkan 2 tahun untuk pulang kampung. Biaya yang
banyak untuk modal transport berikut oleh - oleh untuk tetangga di rumah menjadi
alasan yang tak kalah penting. Dalam hal ini saya sendiri menjadi berpikir. Di
tengah derasnya arus urbanisasi, mereka memilih untuk tinggal di kota dibanding
tinggal di kampung halaman. Lapangan kerja makin sempit, teriak mereka. Uang
saja masih pas-pasan untuk hidup, apalagi buat pulang kampung sering-sering,
keluh yang lain. Memang telah menjadi fakta di dalam pernak-pernik problema
Indonesia tentang tingginya arus pindah “para perantau’ yang berbanding lurus
dengan meneyempitnya lapangan kerja di kota.menyelesaikan masalah ketimpangan
kepadatan penduduk ini sudah barang tentu menjadi tugas para pejabat kita yang
terhormat unutk mengmbil kebijkan-kebijakan yang bermutu. Jika hal ini bisa
diatasi, rasanya bukan lagi menjadi mimpi melihat jalanan antar provinsi yang
lancar setiap tahun.
Apapun yang terjadi, baik di lingkup masyarakat urban maupun
para birokrasi di tempat masing-masing, perantau adalah perantau. Mereka
memilih yang untuk mengadukan
peruntungan harus bersiap juga mengahdapi kenyataan, walaupun harus ditebus
dengan tak berpulang-pulang berbulan-bulan ke kampung tercinta. Sehingga mudik,
dianggap momen sakral bagi para kaum urban untuk melepas penat sejenak dari
kerja keras kehidupan di kota, menuju pelukan kedua orang tua yang damai nan
menentramkan. Penulis hanya membayangkan, jika mudik yang bahkan sudah dianggap
budaya bagi sebagian orang ini dihilangkan, turut menghilang juga angka-angka
kecelakaan yang fantastis, tingginya volume kendaraan tiap tahun, juga anggaran
perbaikan jalan yang rutin digelontorkan pemerintah untuk membenahi jalan.
Mungkinkah?
Tidak ada komentar :
Posting Komentar