Minggu, 30 November 2014

Al Barra Bin Malik, Kesatria Pilihan Rasulullah

 Ia seorang yang hitam, pendek, rambutnya ikal. Bahkan tak terdengar catatan kehidupannya sedikit pun sebelum islam datang ke Madinah. Di balik penglihatan orang-orang yang memandangnya sebelah mata, ia memiliki keberanian yang sangat tinggi, melebihi kaum anshar pada umumnya. Sikapnya terlihat jelas ketika Baiat Aqabah, dimana ia langsung memacu kudanya begitu medengar dakwah Nabi Muhamad SAW, mendengarkan perkataan Rasulullah SAW, lantas memegang tangan beliau dan membaiatnya tanpa memepertanyakan lagi, berbeda dengan sikap Abu al-Haitsam bin Nabhan ataupun dari sahabat Anshar yang lain. Tak heran Rasulullah SAW bersabda,” Betapa banyak orang hina yang lemah serta lusuh dan tidak dianggap, seandainya ia bersumpah dengan nama Allah, niscaya Allah akan mewujudkan sumpahnya, diantara mereka adalah al-Barra bin Malik” ( hadits riwayat Bukhari)
                
 Keinginannya unutk mati sebagai seorang syuhada amatlah tinggi, ini dibuktikan dengan keberaniannya di kancah pertempuran Uhud dimana ia berhasil membunuh banyak sekali musyrikin, bagaikan pedang yang di arahkan ke berbagai penjuru. Keberaniannya tidak dapat diragukan, bahkan ketika masa setelah wafatnya Nabi SAW Umar bin Khattab pernah mewasiatkan supaya tidak menjadikan Al-Barra sebagai seorang komandan atau pemimpin pasukan, karena keberaniannya dinilai terlalu besar sehingga ditakutkan membawa bencana bagi pasukan.
                
 Salah satu perang yang diikutinya adalah perang melawan Musailamah Al-Kadzab yang mengaku sebagai nabi. Kaum muslimin dipimpin oleh Khalid bin Walid Sang Pedang Allah, bergerak ke Yamamah dan bertemu dengan pasukan musuh. Peperangan berkecamuk dengan sangat seru, namun lama kelamaan kelompok murtad tampak lebih umggul. Melihat hal itu Tsabit bin Qais dan Zaid bin Khattab merangsek maju, menyeru pada kaum muslimin unutk maju. Maka mereka berdua menyabetkan pedang ke segala penjuru, menghancurkan barisan musuh sampai mati syahid. Setelah sayhidnya mereka berdua maka Al-Barra tampil di depan, lantas kembali menyeru kaum muslimin uutk maju. Maka pasukan muslimin berhasil mendesak lawan hingga masuk ke benteng pertahanan. Al-Barra pun berkata, “ Wahai Kaum muslimin, lemparkanlah aku dengan ke benteng itu sehingga aku bisa membukanya dari dalam!” namun Khalid bin Walid tidak mengidahkan usul tersebut karena sangat berbahaya.
                
 Maka pada saat malam hari, Al-Barra diam-diam memanjat dinding lantas bertakbir dari atas benteng dan melompat menuju gerbang benteng. Tak peduli dengan sayatan pedang atau tusukan anak panah, ia membuka gerbang benteng dari dalam, sehingga pasukan muslim dapat menerobos ke dalam. Namun, Al-Barra belum mendapatkan syahid yang ia rindukan. Ia ditemukan terbujur sekarat di samping pintu gerbang . para muslimin segera membawanya ke tenda pengobatan. Pada masa pengobatan ia menangis setiap hari, karena belum mendapatkan syahid yang diinginkan. Khalid bin Walid menghiburnya dengan mengingatkan ia masih mempunyai kesempatan untuk syahid di peperangan di negeri Persia.
                 
 Ia mengikuti peperangan berikutnya melawan Persia di Qadisiyah dan yang lain. Pada suatu operasi pengepungan benteng,kedua  tangannya melepuh terkena karena menggenggam besi panas pada saat menyelamatkan nyawa saudaranya yang terkena jebakan musuh. Disana ia sempat membatin, “ Ya Allah, mengapa aku belum juga syahid?” akhirnya do’a beliau dijawab pada saat pertempuran di Ahwaz dan Tatsur. Pada medan Ahwaz ia berhasil membunuh sekitar seratus orang musuh dalam duel, hingga pasukan muslim memperoleh kemenangan disana. Namun pada di perbatasan Tatsur, musuh melakukan penyerangan sebanyak 80 kali, dimana pada penyerangan terakhir yang paling hebat, kaum muslimin berkata pada Al-Barra,
                
 “ Hai Barra, sesungguhnya RAsulullah saw. Telah bersabda kepadamu,’Jika kamu bersumpah atas nama Allah, pasti Allah akan mengabulkannya.’ Bersumpahlah atas nama Allah untuk kita!”
                
 Al-Barra berkata, “ Aku bersumpah kepada-Mu wahai Tuhan, berikan bahu-bahu musuh pada kami.” Maka pasukan musuh berhasil didesak hingga melewati jembatan Sus.
                 
Kaum muslimin kembali berkata, “ Barra bersumpah kepada Allah untuk kita.”
                 
Al-Barra berkata,” Aku bersumpah kepada-Mu wahai Tuhan, berikan bahu-bahu mereka kepada kami dan pertemukan aku dengan Nabi-Mu saw.” Maka  musuh berhasil ditumpas dan Al-Barra mati syahid.
                 
Itulah sekelumit kisah hidup salah seorang pejuang yang dibimbing disamping Nabi saw., menegakkan islam dan menggadaikan nyawanya di jalan Allah. Keberaniannya patut diteladani, bagi sebagian dari kita yang mungkin merasa ragu atau takut untuk meneggakan Kalimat Allah dengan jalan yang dapat kita lakukan.  Al-Barra telah membuktikan bahwa kemuliaan hanya dapat dicapai dengan perjuangan dan keberanian, dan perjuangannya telah terbalas dengan hadiah syahid di Jalan Allah.

Umairah, Abdurrahman, THE GREAT KNIGHT Kesatria di sekitar Rasulullah, Jakarta : Embun Publishing, 2006
     

Sedikit Tulisan Tentang Chairil Anwar



Sedari di tingkat sekolah dasar mungkin masing-masing dari kita sudah diperkenalkan dengan penyair ini. Beliau adalah Chairil Anwar, yang terkenal dengan puisisinya yang berjudul ‘Aku’ atau ‘Semangat’. Ia dikenal sebagai pelopor angkatan ’45 dengan puisi-puisinya yang bernafaskan angin baru, dimana dianggap memberontak bentuk-bentuk sajak umumnya pada masa itu .

Sebagai seseorang yang mati muda, pada usia 27 tahun, Chairil Anwar sudah membuktikan bahwa umur seseorang bukanlah batasan dalam menghasilkan suatu karya. Terbukti karya-karyanya banyak yang mempengaruhi penyair-penyair berikutnya, dan dianggap sebagai salah satu peletak dasar kesusastraan di Indonesia. banyak orang yang mengakui tingkat kejeniusannya dalam mengolah kata, sehingga walaupun kita menyaksikan bahwa puisi-puisinya adalah sebuah masa lalu, tapi bisa menjadi sebuah masa depan dengan kreativitas tanpa batasnya dalam berkarya.

Walaupun karya-karya Chairil Anwar banyak yang dinilai individualistis seperti puisinya yang pertama-tama ‘Nisan’ atau ‘Kehidupan’ dan diakhir masa kehidupannya ‘Derai – Derai Cemara’ ia tidaklah menutup mata atas keadaan politik dan masyarakat yang berada di sekitar. Ia menulis sajak-sajak ‘Persetujuan dengan Bung Karno’ yang menggambarkan keadaan politik pada saat itu. Namun sayang karena apresiasi dari para elit politik sendiri tidaklah begitu bersimpatik kepadanya, namanya sempat timbul-tenggelam dan menjadi permainan dalam menguatkan arah politik masing-masing. Saya kira memandang sebelah mata atas karyanya, sebagai seorang yang sudah memeprjuangkan prisisp hidup dan ‘memberontak’ dengan nafas baru dalam gaya-gaya persajakan, karena kepentingan ‘perut dan golongan’ belaka adalah suatu penghinaan.

Salah satu hal yang patut diteladani bagi kita sebagai generasi muda adalah ketotalannya dalam berkesenian dalam sastra, yang sudah ia mulai sejak umur 15 tahun. Hal ini juga ditambah dengan penguasaannya terhadap bahasa Jerman, Belanda, dan Inggris dengan baik walaupun pendidikan terakhirnya setingakat sekolah menengah atas. Masa hidupnya memang singkat, namun ia berhasil membuktikan kata-katanya pada sang ibu bahwa jika ia mati muda, biarlah anak-anak sekolah dasar menaburkan karangan bunga di makamnya nanti. Dan waktu membuktikan, bahwa kesungguhannya terbayar lunas. Bahkan bukan hanya pada anak-anak sekolah dasar, namun semangatnya terus mengalir dalam diri bangsa Indonesia selama bangsa ini tetap menghargai identitas dirinya sendiri.

Sumber :
Eneste, Panusuk (editor), AKU INI BINTANG JALANG : Koleksi Sajak 1942-1949 Chairil Anwar,     Jakarta : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,  2011

Sapardi Djoko Damono, “CHAIRIL ANWAR KITA”, Eneste, Panusuk (editor), AKU INI BINTANG     JALANG : Koleksi Sajak 1942-1949 Chairil Anwar, Jakarta : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,  2011

Agni, Binar S.Si, SASTRA INDONESIA LENGKAP, Jakarta : PT BUKU KITA, 2008

Minggu, 19 Oktober 2014

Hijab


Sudah menjadi hal yang diketahui secara umum bagi umat muslim secara umumnya, bahwa islam memiliki aturan-aturan dan batasan-batasan mengenai interaksi antara wanita dan pria. Hal ini disyariatkan tak kurang supaya terjadi keselarasan dalam umat itu sendiri. Ketika suatu umat memegang teguh syariat islam dalam perilaku bermasyarakatnya pada tiap aktivitas keseharian, keselamatan dan keberkahan akan datang kepada kaum tersebut, sedang ketika suatu kaum menistakan syariat islam dalam tingkah laku kesehariannya maka tunggulah kehancurannya. Nabi SAW saudah bersabda “ barang siapa yang memegang teguh 2 hal ini maka ia akan selamat, Kitab Allah dan Sunnah”
                Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengaruniakan kita, para civitas academica, mengenai pemahaman pentingnya menjaga syariat islam, khususnya mengenai batasan antara wanita dan pria, sehingga dapat diimplementasikan dalam pendidikan siswa-siswi MAN Insan Cendekia Serpong. Hal mengenai batasan interaksi antara lawan jenis ini, yang sering kali disebut sebagai Hijab, sudah ditanamkan sejak para siswa memulai aktivitas pertamanya sebagai seorang siswa Insan Cendekia pada kegiatan Pekan Taaruf Siswa. Pada acara yang kerap disingkat PTS ini ditanamkan niai-nilai mengenai pentingnya menjaga interaksi antara para siswa dan siswi. Hal ini juga dipertegas dengan sangsi yang berat dari Bidang Kedisiplinan Sekolah mengenai pelanggaran terkait hijab, yakni DO atau drop out. Penulis sendiri merasakan betapa para kakak panitia PTS khususnya PTS Al-Furqon yang diikuti penulis menekankan perihal hijab tersebut.
                Namun, keistiqomahan dalam melaksanakan hal-hal yang sudah di pelajari pasti akan terus diuji, seiring dengan berjalannya waktu. Tekanan yang sudah tidak ada dari panitia PTS pada kegiatan belajar mengajar, ataupun interaksi yang makin intens antara siswa yang berlawanan jenis baik di kelas, sekolah, mau pun di organisasi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga nilai-nilai yang sudah diberikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sangsi DO yang mengenai beberapa murid pada angkatan terdahulu. Sehingga, menjaga nilai-nilai kehijaban dari hal-hal yang sering dianggap remeh seperti ghadul bashar ataupun menjaga jarak antara siswa dan siswi amat diperlukan.
                Karena hal tersebut, maka penulis mengajak para siwa-siswi, guru, dan semua perangkat MAN Insan Cendekia khususnya angkatan Eisthera Gritanefic untuk terus menjaga nilai-nilai mengenai hijab tersebut. istiqamah dalam menjalankan kewajiban memang bukanlah perkara yang mudah, hingga Allah pun paling menyukai amalan yang dilakukan secara istiqamah. Penulis meyakini, jika seluruh  siswa, guru, staf serta karyawan turut menjaga nilai-nilai tersebut bukanlah tidak mungkin jika pada waktu-wakti kedepannya tidak ada lagi siswa maupun siswi yang dikeluarkan karena permasalahan ini, bahkan madrasah yang kita cintai ini akan semakin berkah dan lebih mudah menggapai berbagai prestasi karena telah berusaha istiqamah dalam manjalankan hal-hal yang telah disyaiatkan olehNya.  

Sabtu, 27 September 2014

Islam dan Pacaran



                Sudah kerap kita dengar tetang buruknya generasi muda saat ini. Mulai dari degredasi moral sampai pada taraf gaya hidup yang hedonis banyak dijadikan bahan tugasi tulis-menulis oleh para siswa. Padahalnya banyak sekali kelebihan-kelebihan dari generasi muda saat ini. Seperti dalam bidang olipiade, Indonesia masih sering medapatkan medali-medali dan penghargaan. Sebutlah IGEO, dimana salah seorang siswi MAN Insan Cendekia madapatkan medali perunggu atas nama Uyun Charisa Azisa. Atau lomba-lomba bertaraf internasional lainnya, dimana Indonesia masih dapat mengirimkan wakilnya. Masih banyak lagi kelebihan-kelebihan generasi muda yang tidak terekspos, atau bahkan terekspos namun kurang mendapat perhatian. Salah satunya adalah kreativitas para anak muda, terlebih dalam membuat kalimat-kalimat yang menggugah, seperti  sebagai berikut

“Truk aja punya gandengan, masa lu kagak.”

Atau yang lebih ilmiah sedikit

“Xylem aja  pasangan-pasangan sama floem, masa lu kagak punya pasangan.”

Memang sudah menjadi fenomena yang ‘dibiasakan’ dimana pacaran menjadi salah satu tolak ukur dalam kehidupan sosial pada umumnya. Banyak sekali alasan yang disampaikan, argumen yang diberikan. Namun jika kita lihat lebih dekat apakah pacaran itu baik?
                        Dalam Islam, kita mengenal adanya batasan-batasan antar lawan jenis. Seperti ghadul bashar.  Allah SWT telah berfirman pada surat An-Nur ayat 30 :
  
 قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
                
Apakah hanya laki-laki saja yang harus menjaga pandangan? Pada surat Ash-Shafat ayat 48 Allah pun turut berfirman :
وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ

Artinya : “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.”
                 
Disini kita dapat membuat kesimpulan, jika ingin menjadi laki-laki yang baik atau perempuan-perempuan bertaraf bidadari surga dengan standar Al-Qur’an, sudah saatnya mulai kita menjaga pandangan. Mengapa pandangan yang penting? Karena sesuai kata-kata yang sudah populer ‘Darimata turun ke hati’. Dari hati nantisaling jatuh hati. Kalau udah jatuh hati nanti malah main hati. Waduh, bahaya kan? Tetapi memang sudah menjadi fakta ketika suatu hubungan tidak disertai komitmen yang jelas pasti akan mudah untuk kandas  di tengah jalan.

Selain itu, secara logika pun pacaran amat merugikan para pemuda-pemudi yang sudah disibukkan kegiatan sehari-hari. Sebutlah Bang Joko, sudah lelah sehabis kerja part-time di salah satu pom bensin masih harus mengatar pacarnya ke salon terdekat. Atau Amat, sudah lama-lama dimarahi guru karena lupa mengerjakan PR masih harus juga didamprat pacarnya yang kecapekan nungguin dia di tempat ketemuan. Juga Susilawati, terlalu asik smsan dengan sang kekasih, hingga enggan membantu ibu memebli sayur ke warung depan. Kita lihat begitu besar dampaknya pacara, menguras tenaga, mengorbankan perasaan, bahkan sampai durhaka pada orang tua.  

Bagaimanapun juga, semua ada saatnya. Sebagaimana yang sering disebutkan para guru, cinta pada lawan jenis itu wajar, kalau sama sesame jenis baru gak wajar. Kalau saatnya sudah tiba, secara lahir dan batin kita sudah siap berkomitmen dengan si dia, malah islam mengharuskan para pemudanya untuk bersegera melangsungkan akad nikah. Sudah saatnya para pemuda menghayati cinta antara Fathimah r.a dengan Ali bin Abi Thalib yang sampai setasn pun dikisahkan tidak mengetahui cinta antara mereka berdua saking menjaga persaan masing-masing. Pada akhirnya, mereka berdua melangsungkan pernikahan yang sederhana, namun menjadi sebuah keluarga yang begitu bahagia. Semua hanya satu soal, yaitu mencoba menjaga pandangan dan persaan sebagaimana doa Ali bin abi Thalib pada saat masih muda

Yaa Allah kau tahu hati ini terikat suka akan indahnya seorang insan ciptaan-Mu.
Tapi aku takut, cinta yang belum waktunya menjadi penghalang ku mencium surga- Mu.
Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini, sampai tiba waktunya,
andaikan engkau pun mempertemukan aku dengannya kelak.
Berikan aku kekuatan melupakannya sejenak.
Bukan karena aku tak mencintainya
Justru karena aku sangat mencintainya
               
  
         Pemuda-pemudi memiliki banyak sekali kelebihan, penulis sangat percaya akan hal itu. kelebihan-kelebihan itu justru ada untuk dikembangakan, bukan untuk dibuat tumpul dengan cinta-cintaan yang hanya menghabiskan perasaan. Terlebih jika kelebihan-kelebihan tersebut diiringi dengan ketaatan pada Allah dan perintahNya, tentu kebaikan-kebaikan yang menggunung tersebut akan menjadi lebih berkah. Dan apakah ada yang akan menghalangi sebuah keberkahan jika allah sudah meridahinya?






Minggu, 21 September 2014

Penghayatan Terhadap Nilai - Nilai Sejarah



                Sudah menjadi rahasia umum bahwa degredasi moral menjadi salah satu momok penyakit mental yang sedang gencar-gencarnya menimpa para pemuda bangsa Indonesia. Meningkatnya angka aborsi di kalangan remaja putri, westernisasi yang diagung-agungkan, sampai gaya hidup yang bertolak belakang dengan rasa tradisi bangsa Indonesia menjadi berhala-berhala kecil di tengah masa-masa pencarian diri dan pembuktian pada sesama di kalangan pemuda khususnya remaja yang baru menjejak masa-masa awal kedewasaan.
                Sebagai salah satu media sosialisasi, sekolah sebagai tempat para pemuda meluangkan waktu sehari-harinya di sana memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik mental para pemuda tersebut, sekaligus mewariskan nilai-nilai dan norma sosial yang telah dirumuskan oleh para pendahulu bangsa. Adalah sebuah harga mati untuk menjadikan para pemuda bangsa memiliki semangat serta rasa nasionalisme yang tinggi hingga dapat menjadi benteng-benteng pertahanan juga penerus tongkat estafet yang mumpuni, sehingga penjajahan di atas bumi Indonesia dapat dihapuskan secara paripurna hingga ke setiap sendi-sendi kehidupan bangsa.
                Semangat cinta kepada tanah air ini tidak mungkin dapat diwariskan secara instan sehingga tercipta insan yang siap membela negara dengan segenap tumpah-darahnya begitu saja. Untuk dapat mencintai bangsanya, seorang pemuda tentu harus mengenal bangsanya terlebih dahulu. Pengenalan kepada bangsa memiliki makna yang amat luas, termasuk di dalamnya sejarah berdirinya bangsa tersebut atau pun nilai-nilai yang telah dirumuskan oleh para pelopor bangsa.  Nilai-nilai tersebut tentu dapat diberikan di sekolah, terlebih pada pelajaran sejarah dimana perjuangan bangsa menjadi materi-materi yang wajib untuk dipelajari di kelas. Namun, kecintaan seseorang kepada bangsanya tidak hanya dapat ditunjukkan dengan grafik-grafik nilai semata. Nilai-nilai LKS yang lebih tinggi tidak dapat menjamin seseorang lebih siap membela bangsanya dibandingkan dengan nilai-nilai yan lebih rendah.
                Dikarenakan hal tersebut, adalah menjadi salah satu hal yang fundamental penanaman rasa cinta kepada tanah air ini. Ketika seorang pemuda dapat menghayati perjuangan Pangeran Diponegoro ataupun Tuanku Imam Bonjol pada perang-perang yang berlangsung melawan kolonial Belanda, ataupun penderitaan para pekerja romusha untuk pemerintah Jepang sudah barang tentu dalam kehidupan sehari-harinya pun ia akan menghargai tiap embusan kemerdekaan yang ia nikmati sekarang. Ketika seorang pemuda menghayati perjuangan para pendahulu bangsa di meja diplomasi, menjadi salah satu negara pencetus Gerakan Non Blok, sudah barang tentu ia tak akan malu mengenakan identitas-identitas yang mencirikan kebudayaan Indonesia. Ketika seorang pemuda menghayati perjuangan Wage Rudolf Supratman, yang bahkan pada saat pertama kali diperdengarkan lagu Indonesia Raya hanya dapat dengan media biola, maka tak ada batang kepala para pemuda yang berani tidak menunduk ketika mendengar lagu Indonesia Raya dilantunkan.
                Dengan mengenal Indonesia secara lebih dekat, akan terbentuk hubungan emosional yang lebih erat dengan bangsa dan para pendahulunya. Hal ini menjadi benteng yang paling mendasar dalam menghadapi arus globalisasi dimana penyeleksian budaya-budaya asing lebih ditekankan kepada individu-individu sendiri. Cara pengajaran yang lebih medominasikan pada hafalan tanggal-tanggal ataupun teks pada buku-buku paket saja tidak lagi relevan dalam menghadapi tantangan zaman saat ini. Tentu, memdapatkan nilai-nilai yang sesuai dengan tuntutan sekolah atau penyelesaian materi-materi yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan itu penting, namun diatas itu semua penghayatan terhadap nilai-nilai sejarah kepada para pemuda jauh lebih penting, mengingat para pemudalah yang kelak akan menjadi pancang-pancang kesejahteraan dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.       

Minggu, 07 September 2014

Mudik : Perjalanan Panjang Kaum Urban Indonesia

Kecelakaan yang marak terjadi. sumber: dokumen pribadi

truk yang nyungsep ke dalam hutan


Walaupun sudah berlalu agak lama momeni ni, tetapi penulis tetap tergelitik untuk menuliskan dan membagi pikiran-pikiran penulis pada khayalak semua. Karena mudik adalah salh satu momen penting, yang ditunggu sejuta umat di Indonesia.

Mudik, adalah budaya yang mengakar pada muslim Indonesia, dimana mereka yang merantau jauh dari tanah kelahiran pulang untuk sungkem setiap Hari Raya Lebaran. Momen ini juga di tunggu oleh anak-anak yang sudah kengen dengan saudara-saudara jauhnya ataupun para orang tua yang sudah uzur untuk melihat buah hati dan cucu-cucu mereka berkumpul meramaikan rumah yang sepi sepanjang tahun. Tentu dengan bumbu-bumbu parahnya kepadatan lalu lintas dan meningkatnya jumlah kecelakaan di jalan secara drastis disbanding hari-hari biasa.

Sebagai salah satu momen yang menasional, sudah barang tentu momen mudik ini mennjadi salah satu wajah budaya di Indonesia, terlebih dengan meningkatnya angka para perantau yang mengadu nasib di Jakarta, terlepas dari berhasil atau tidaknya mereka menundukkan ‘kerasnya’ ibukota.
Sebagai salah seorang anak para perantau, saya mencoba menggali kelebihan dan kekurangan mudik ini lebih dalam. Pertama, kebanyakan penduduk Indonesia menganggap mudik sebagai penjalin tali silaturahim antara keluarga, kerabat, atau saudara-saudara dekat. Hal ini bisa kita lihat di banyak daerah ketika usai shalat Ied bersama dilakukan kegiatan keliling kampung guna mengunjungi tetangga-tetangga lama atau sanak kerabat yang dekat. Setelah 2 atau 3 hari setelah lebaran, para pemudik sering kali berkeliling ke kampung-kampung yang lebih jauh untuk mengunjungi kerabat-kerabat atau para sesepuh  yang telah uzur. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa hal ini tidak dilakukan di lain waktu? Bukankah sudah menjadi kewajiban dalam agama untuk menyambung  tali silaturahim?

Momen yang tepat, begitu jawab beberapa orang. Beberapa mengatakan mereka tak punya waktu lain, selain pada saat lebaran tersebut. namun sungguh sesuatu yang naif ketika mereka yang mengaku sibuk masih bisa meluangkan waktu untuk piknik bersama kantor, bermain outdoor, atau reuni-reuni kawan sealmamater. Padahal sudah jelas bahwa yang paling di nanti oleh para orang tua bukanlah kiriman ptotngan gaji, tetapi kehadiran sang anak yang kini sudah pergi jauh. Mengapa tak meluangkan sehari atau dua hari dalam sebulan, dan hal ini pun bisa menjadi momen yang menyanengkan bagi para cucu untuk mengenal kakek dan neneknya? Alasan ini penulis anggap sebagai alas an yang kurang logis.

Selain alasan diatas ada lagi alasan yang lebih klise. Uang. Kekurangan uang untuk mudik, sehingga harus  menunggusetahun atau bahkan 2 tahun untuk pulang kampung. Biaya yang banyak untuk modal transport berikut oleh - oleh untuk tetangga di rumah menjadi alasan yang tak kalah penting. Dalam hal ini saya sendiri menjadi berpikir. Di tengah derasnya arus urbanisasi, mereka memilih untuk tinggal di kota dibanding tinggal di kampung halaman. Lapangan kerja makin sempit, teriak mereka. Uang saja masih pas-pasan untuk hidup, apalagi buat pulang kampung sering-sering, keluh yang lain. Memang telah menjadi fakta di dalam pernak-pernik problema Indonesia tentang tingginya arus pindah “para perantau’ yang berbanding lurus dengan meneyempitnya lapangan kerja di kota.menyelesaikan masalah ketimpangan kepadatan penduduk ini sudah barang tentu menjadi tugas para pejabat kita yang terhormat unutk mengmbil kebijkan-kebijakan yang bermutu. Jika hal ini bisa diatasi, rasanya bukan lagi menjadi mimpi melihat jalanan antar provinsi yang lancar setiap tahun.

Apapun yang terjadi, baik di lingkup masyarakat urban maupun para birokrasi di tempat masing-masing, perantau adalah perantau. Mereka memilih  yang untuk mengadukan peruntungan harus bersiap juga mengahdapi kenyataan, walaupun harus ditebus dengan tak berpulang-pulang berbulan-bulan ke kampung tercinta. Sehingga mudik, dianggap momen sakral bagi para kaum urban untuk melepas penat sejenak dari kerja keras kehidupan di kota, menuju pelukan kedua orang tua yang damai nan menentramkan. Penulis hanya membayangkan, jika mudik yang bahkan sudah dianggap budaya bagi sebagian orang ini dihilangkan, turut menghilang juga angka-angka kecelakaan yang fantastis, tingginya volume kendaraan tiap tahun, juga anggaran perbaikan jalan yang rutin digelontorkan pemerintah untuk membenahi jalan. Mungkinkah? 

Selasa, 12 Agustus 2014

Orang tua : Anugerah Terindah




sumber : http://www.scoopweb.com/The_Simpsons_(season_20)
Masih di rumah sakit, sendirian menunggu orang tua balik dari mengunjung salah satu teman ayah. Sempet didatengi salah seorang karyawan rumah sakit, disuruh tandatangani ini-itu. Karena gak ngerti akhirnya nunggu ibu datang saja, hahaha. Sebagai seorang anak, memang ane belum bisa berbakti kepada orang tua. Dan sebenarnya masalah orang tua ini punya kisah tersendiri dalam hidup ane, dalam hidup kita semua.

Dari kecil, ane anak yang dimanja dan selalu dapat perlakuan yang ‘lebih’ dibanding kakak ane. Ane yang cuman 2 bersaudara akhirnya sering rubut dan marah-marahan. Tetapi, karena ane anak yang lebih kecil, jadi lebih banyak dibela, hehe.  Dari dulu sampai sekarang, ane memang paling gak bisa jauh dari ibu.
Tetapi, seiring ane makin besar, mulai puber, ane mulai ngelakuin ‘pemberontakan kecil-kecilan’ sama ibu ane. Hampir tiap malem ane dipanggil ke kamar ibu karena ada saja masalah yang ane buat, dari mulai males mandi sore sampai belum nyuci piring. Memang pada saat itu ibu ane lagi sibuk-sibuknya, dan ane juga malah gak peduli sama keadaan ibu, hingga hubungan ibu-anak ini sempat meregang. Puncaknya adalah ane memilih pesantren sebagai ‘pelarian’ ane.

Pada awalnya ibu dan ayah rada keberatan, menilik dari keluarga besar ane belum ada yang sekolah di pesantren. Namun dengan seiringnya waktu akhirnya kedua orang tua ane menyetujui. Dimulailah hunting pesantren tersebut. Dengan sabarnya orang tua ane mengajak melihat-lihat dari satu pesantren ke pesantren lain, sampai akhirnya ane menemui  calon sekolah ane, SMPI Nurul Fikri Boarding School Lembang.

Awal-awal masuk, ane lalui dengan gembira. Ketika kawan-kawan ane bersedih ria, ane sudah tertawa-tawa keliling kompleks pesantren yang memang masih dalam tahap pembangunan. Merayakan kebebasan, mungkin itu kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hati ane pada saat itu. Samapi semua keceriaan itu pecah ketika ane mendapat kunjungan pertama dari ibu dan ayah ane. Setelah beliau-beliau pergi, ane mulai merasakan kehilangan akan keberadaan kedua orang tua. Ane nangis seharian diatas ranjang. T_T

Sejak kejadian itu ane mulai sedikit demi sedikit tersadar, bahwa mungkin tak selamanya ane memiliki kedua orang tua ane. Semua dari kita sudah terikat kontrak dengan yang namanya kematian, dan tidak ada yang menjamin penundaan hal tersebut. Mungkin sehari, dua hari, atau bahkan setelah membaca post ini kita ‘dipaksa’ menghadapinya. Ane jadi lebih sering  berpikir dan mencoba menghargai tiap-tiap waktu yang ane lalui bersama kedua orang tua ane.  Sampai sekarang pun, setelah ane naik kelas dan pindah sekolah ke serpong, ane selalu mempunyai kebiasaan khusus, yaitu menunggui punggung ibu dan ayah ane di balik gerbang, memandang punggung keduanya hingga tak terlihat di kelokan jalan setelah kunjungan berakhir. Hal itu ane lakukan semata-mata karena tak ingin menyesal di kemudian hari, jika pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir ane dengan beliau-beliau.

Kawan, sering kita merasa perlakuan orang tua tidak adil terhadap kita. Merasa tak dihargai sebagai anak, atau merasa tak dipedulikan mungkin pernah kita alami. Bahkan dulu ane sempat berpikir bahwa memiliki orang tua adalah sebuah kutukan, dimana kita punya hutang budi yang tak bisa kita bayar. Namun kawan, hutang budi yang tak terbayar itulah bukti cinta kasih orang tua pada kita.

Seiring umur bertambah, kita mulai mengenal dunia. Main bersama teman sampai malam, hingga pulang dimarahi. Atau melakukan kekonyolan-kekonyolan lain yang membuat cemas hati orang tua kita. Kita anggap itu sebagai pelampiasan anak muda, atau sebuah pencarian jati diri dengan mencoba hal-hal yang sudah jelas menimbulkan kecemasan dihati orang tua kita. Namun ingat kawan, semakin kita besar, makin sedikit waktu yang kita miliki, termasuk waktu untuk bersama kedua orang tua kita.

Ridhallahi ridha walidain wa sukhtullahi sukhtu walidain. Dan banyak lagi ayat-ayat dan hadist yang menjabarkan hal tersebut. Ketika kita merasa berat menjalankan perintah kedua orang tua kita, ingatlah satu hal, bahwa mungkin permintaan itu adalah permintaan terakhir yang bisa kita laksanakan untuk beliau-beliau. Kita semua tidak ingin bukan menangis penuh penyesalan di kemudian hari karena ego kecil kita terhadap orang tua? Maka selagi sempat, minta maaflah kepada kedua orang tua kita, selagi sempat, selagi ada waktu. Laksanakanlah hal-hal yang beliau minta, hingga kelak kita akan merasakan kembali sebuah keluarga yang hangat penuh keharmonisan, di dunia maupun di akhirat.