Rabu, 23 Juli 2014

Cerita Si Pengembara

sumber : fineartamerica.com


Dahulu kala hiduplah seorang pengembara yang tak bernama. Ia mendatangi desa-desa satu demi satu, menyusuri curamnya lembah di tengah kabut, maupun berjalan ditengah teriknya matahari gurun.  

Pengembara tanpa nama ini tak terlalu dikenal oleh masyarakat awam, yang tanpa mereka ketahui selalu berbuat baik di setiap desa yang ia lalui. Sebut saja desa-desa yang kalian tahu, maka pasti, dalam satu masa pada sejarahnya dimana sebuah persoalan pelik tiba-tiba terselesaikan begitu saja. Rangkaian pencurian, banjir karena tanggul yang hancur, ataupun jalan dan jembatan yang terputus, terselesaikan begitu saja.

Pengembara ini tidak dikenal namanya karena ia memang tak ingin dikenal luas oleh masyarakat. Ia hidup bersama untaian daun yang berguguran dan gemerisik angin yang sejuk. Ia seolah terlahir begitu saja, tanpa asal muasal ataupun sebuah nama. Semua karena ia mengetahui bahwa suatu saat ia akan pergi, maka tak perlulah sebuah nama baginya.

Sampai suatu saat tak jauh sebuah desa ia melepas penat. Ia duduk disebuah akar pohon apel yang dahannya begitu menjulur hingga buahnya dapat dipetik dengan sangat mudah. Ia mengambil tempat air dan hendak meminum airnya, yang kemudian ia dapati tingal tersisa beberapa bulir air. Akhirnya si pengembara memutuskan untuk singgah di desa yang berada di depannya.

Ketika ia melangkah masuk ke gerbang desa, ia menemukan desa yang ia masuki sangat sepi. Terlalu sepi. Sepanjang ia memandang, tak terlihat seorangpun lalu lalang. Toko-toko yang berjajar sepi, terlihat banyak bekas losmen yang papan namanya mulai copot. Satu dua bar yang sudah tak bertuan berada di sisi jalan. Dahulu pasti desa ini ramai oleh pengunjung, benak si pengembara. akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam salah satu rumah, untuk mencari tahu apakah masih ada penduduk atau sebuah tanda-tanda kehidupan.

Tak sampai 5 langkah, teerdengar sebuah teriak
“Hai orang asing! Angkat kakimu dari desa ini!”
“Pergilah orang asing, jangan bawa kutukmu pada kami!”
“Kami tak sudi menerima para pembawa kutukan ke tempat kami!”

Pengembara itu teramat kaget mendengar teriakan-teriakan tersebut, yang disusul oleh teriakan-teriakan lain. Mulai muncul moncong-moncong senapan dari balik tembok, pintu maupun lubang-lubang yang terlihat sengaja dibuat. Pengembara mencoba menenangkan dirinya, dan dengan lantang berkata,
“ Hai manusia, sungguhpun aku tak membawa kekotoran sedikitpun, selain debu yang kubawa dalam perjalanan yang ku tempuh. Sediakah kalian memberiku sepotong cerita akan hal yang kalian takutkan? Atau biarlah angin membawa pergi aku yang utuh bersama sepotong roti dan air untuk melepas dahaga”

Tak lama kemudian, muncul seorang yang telah terbungkuk-bungkuk membawa sebuah mangkuk minuman. Di tangan yang lain dipengangnya sekerat roti.
“Hai pengembara, sungguhpun kami tidak membawa kekotoran sedikitpun, selain kekhawatiran yang menggantung di pelupuk mata. Terbilang 1 tahun yang lalu datang seorang pengembara sepertimu, meminta hal yang sama sepertimu, bahkan mengatakan hal yang sama sepertimu, dan sayangnya kami idahkan. Sang pengembara memberi sumpah bahwa negeri ini tak akan mendapat kedamaian selamanya kecuali dikorbankannya satu jiwa diatas pelandu yang ia bawa. Akhirnya sejak saat itu kami ditimpa penyakit aneh, yaitu kekhawatiran yang teramat sangat hingga ternak tak lagi terurus dan dayur tak lagi tersiang. Banyak dari kami mencoba datang ke pelandu yang ditinggalkan sang pengembara namun tak mampu mendekati jua. Jikalau anda berkenan maukah anda mencoba mendekati pelanduk terkutuk? Sekerat roti dan semangkuk air ini moga meluluhkan hatimu atas keadaan kami”

“Sungguhpun anda hai saudara tua lebih membutuhkan hal tersebut, biarlah saya menyendiri dahulu untuk mengambil keputusan atas masalah pelik ini”

Malam pun datang, sang pengembara duduk diatas akar pohon apel yang ia datangi pada saat siang yang lalu. Ia menatap bintang untuk mencari kepastian. Ia berucap lirih:

“Sungguhpun obat daripada penyakit yang menimpa desa ini adalah nurani yang bersih”
Akhirnya ia beranjak pergi, meniggalkan tempat tersebut.

Pada saat yang bersamaan, para tetua desa bermaksud menyiapkan sebuah tipu muslihat. Mereka sengit mengadukan pendapat-pendapat mereka yang brilian. Sampai salah seorang tetua yang paling muda berkata, 

“Kita siapkan pembakaran di tengah kota, kita  penggal kepalanya dan bakar jadi abu. Abu pemuda tersebut kita terbarkan diatas pelandu, sedang tengkorak yang tersisa kita sampirkan di depan garda desa, supaya menjadi peringatan bagi tiap orang asing yang hendak berlalu-lalang.”

Para tetua yang lain kagum akan ide tetua muda tersebut yang terkesan brutal dan tak mengenal welas asih. Dendam mereka terhadap pengembara seolah tersampaikan dengan ide hebat tersebut. Akhirnya mereka setuju dan pulang ke rumah masing-masing dengan hati gembira.

Pagi menjelang, para tetua desa berkumpul, memastikan sang pengembara datang dari kisi-kisi jendela. Namun yang di tunggu tak datang jua. Karena merasa dipermainkan, akhirnya para tetua marah, para penduduk marah, bahkan para tikus-tikus dan para kucing-kucig turut marah. Sejak awal mereka berniat membunuh sang pemuda dengan mushlihat air dan makanan yang di beri racun, namun si pengembara menolak. Mereka menyiapkan pembakaran namun sang pemuda tak jua datang. Akhirnya mereka semua membawa obor, beriringan berniat memburu si pengembara dan membakarnya hidup-hidup.
“Hai penduduk desa! Sesungguhnya si pengembara tadi adalah salah satu dari para pembawa kutuk! Dengan gampangnya ia menghina kita dan mepermainkan kita! Tidak ada yang pantas menggantikan penghinaan ini selain dibakar hidup-hidup!” ,Teriak salah seorang dari kerumunan. Para pendudukpun makin terpancing amarahnya, dan bersegera mengemasi barang mereka, membawa obor-obor dan beriringan mencari si pengembara. Mata mereka takmenyiratkan apapun selain dendam dan amarah yang memuncak.

aku berhenti sejenak. Manatap wajah dari anak-anak kecil yang duduk-duduk di sekelilingku. Salah satu anak bertanya “ Apakah mereka berhasil menemukan si pengembara?”
Aku tersenyum kecil,”Mereka tidak pernah menemukan si pengembara, terlebih membakarnya hidup-hidup. Pelandu itu tidak pernah ada, sayangku, namun cerita itu beredar semenjak beberapa orang yang keluar desa tidak pernah kembali setelah diajak pergi oleh seorang asing. Mereka tak pernah tahu longsor yang menimpa rombongan tersebut mencegah mereka untuk kembali ke desa, dan memulai bisnis baru di desa sebrang. Para penduduk yang hilang akal mengarang-ngarang cerita tentang kutukan sang pengembara. Akhirnya para penduduk ketakutan dan tidak pernah keluar desa karena takut bertemu orang asing. Ternak mereka mati kelapar sedang tetumbuhannya menjadi gersang tak terawat. .”

Memang benar, pelandu itu sebenarnya tidak pernah ada, maupun sang pengembara yang mereka ada-adakan. Kemarahan telah membuat mereka berani keluar desa dan mulai menemukan jejak-jejak rombongan yang hilang. Akhirnya mereka menemukan rombongan yang hilang beserta kehidupan rombongan tersebut yang sudah berkecukupan. Mereka saling menerima, walaupun rombongan yang hilang bingung melihat bekas longsoran tersebut sudah tidak ada lagi, dan jalan sudah terbuka. Akhirnya desa mulai kembali terbuka dengan orang asing dan kembali ramai.

Cerita sang pengembara mulai dilupakan, digantikan dengan kisah-kisah keberanian rombongan yang hilang maupun keberuntungan yang membawa penduduk desa menemukan mereka. Tapi tak pernah ada yang tahu, bagaimana mereka bisa menemukan jalan menuju rombongan yang hilang ataupun melewati reruntuhan yang seharusnya menghalangi mereka dalam perjalanan, ataupun perginya pelandu di tengah kota yang mereka takutkan.  Tak pernah ada yang tahu, siapa yang berteriak di tengah kerumunan guna memancing amarah ataupun menyebarkan cerita tentang kepahlawan rombongan yang hilang.

Aku tersenyum melihat lagit sore, duduk di sebuah akar pohon apel yang 5 tahun lalu kududuki. Di sebelahku tersampir sebuah pelandu tua. Aku berkemas pergi, menyisakan sedikit cahaya yang bisa kubawa untuk desa ini.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar