Minggu, 19 Oktober 2014

Hijab


Sudah menjadi hal yang diketahui secara umum bagi umat muslim secara umumnya, bahwa islam memiliki aturan-aturan dan batasan-batasan mengenai interaksi antara wanita dan pria. Hal ini disyariatkan tak kurang supaya terjadi keselarasan dalam umat itu sendiri. Ketika suatu umat memegang teguh syariat islam dalam perilaku bermasyarakatnya pada tiap aktivitas keseharian, keselamatan dan keberkahan akan datang kepada kaum tersebut, sedang ketika suatu kaum menistakan syariat islam dalam tingkah laku kesehariannya maka tunggulah kehancurannya. Nabi SAW saudah bersabda “ barang siapa yang memegang teguh 2 hal ini maka ia akan selamat, Kitab Allah dan Sunnah”
                Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengaruniakan kita, para civitas academica, mengenai pemahaman pentingnya menjaga syariat islam, khususnya mengenai batasan antara wanita dan pria, sehingga dapat diimplementasikan dalam pendidikan siswa-siswi MAN Insan Cendekia Serpong. Hal mengenai batasan interaksi antara lawan jenis ini, yang sering kali disebut sebagai Hijab, sudah ditanamkan sejak para siswa memulai aktivitas pertamanya sebagai seorang siswa Insan Cendekia pada kegiatan Pekan Taaruf Siswa. Pada acara yang kerap disingkat PTS ini ditanamkan niai-nilai mengenai pentingnya menjaga interaksi antara para siswa dan siswi. Hal ini juga dipertegas dengan sangsi yang berat dari Bidang Kedisiplinan Sekolah mengenai pelanggaran terkait hijab, yakni DO atau drop out. Penulis sendiri merasakan betapa para kakak panitia PTS khususnya PTS Al-Furqon yang diikuti penulis menekankan perihal hijab tersebut.
                Namun, keistiqomahan dalam melaksanakan hal-hal yang sudah di pelajari pasti akan terus diuji, seiring dengan berjalannya waktu. Tekanan yang sudah tidak ada dari panitia PTS pada kegiatan belajar mengajar, ataupun interaksi yang makin intens antara siswa yang berlawanan jenis baik di kelas, sekolah, mau pun di organisasi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga nilai-nilai yang sudah diberikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sangsi DO yang mengenai beberapa murid pada angkatan terdahulu. Sehingga, menjaga nilai-nilai kehijaban dari hal-hal yang sering dianggap remeh seperti ghadul bashar ataupun menjaga jarak antara siswa dan siswi amat diperlukan.
                Karena hal tersebut, maka penulis mengajak para siwa-siswi, guru, dan semua perangkat MAN Insan Cendekia khususnya angkatan Eisthera Gritanefic untuk terus menjaga nilai-nilai mengenai hijab tersebut. istiqamah dalam menjalankan kewajiban memang bukanlah perkara yang mudah, hingga Allah pun paling menyukai amalan yang dilakukan secara istiqamah. Penulis meyakini, jika seluruh  siswa, guru, staf serta karyawan turut menjaga nilai-nilai tersebut bukanlah tidak mungkin jika pada waktu-wakti kedepannya tidak ada lagi siswa maupun siswi yang dikeluarkan karena permasalahan ini, bahkan madrasah yang kita cintai ini akan semakin berkah dan lebih mudah menggapai berbagai prestasi karena telah berusaha istiqamah dalam manjalankan hal-hal yang telah disyaiatkan olehNya.  

Sabtu, 27 September 2014

Islam dan Pacaran



                Sudah kerap kita dengar tetang buruknya generasi muda saat ini. Mulai dari degredasi moral sampai pada taraf gaya hidup yang hedonis banyak dijadikan bahan tugasi tulis-menulis oleh para siswa. Padahalnya banyak sekali kelebihan-kelebihan dari generasi muda saat ini. Seperti dalam bidang olipiade, Indonesia masih sering medapatkan medali-medali dan penghargaan. Sebutlah IGEO, dimana salah seorang siswi MAN Insan Cendekia madapatkan medali perunggu atas nama Uyun Charisa Azisa. Atau lomba-lomba bertaraf internasional lainnya, dimana Indonesia masih dapat mengirimkan wakilnya. Masih banyak lagi kelebihan-kelebihan generasi muda yang tidak terekspos, atau bahkan terekspos namun kurang mendapat perhatian. Salah satunya adalah kreativitas para anak muda, terlebih dalam membuat kalimat-kalimat yang menggugah, seperti  sebagai berikut

“Truk aja punya gandengan, masa lu kagak.”

Atau yang lebih ilmiah sedikit

“Xylem aja  pasangan-pasangan sama floem, masa lu kagak punya pasangan.”

Memang sudah menjadi fenomena yang ‘dibiasakan’ dimana pacaran menjadi salah satu tolak ukur dalam kehidupan sosial pada umumnya. Banyak sekali alasan yang disampaikan, argumen yang diberikan. Namun jika kita lihat lebih dekat apakah pacaran itu baik?
                        Dalam Islam, kita mengenal adanya batasan-batasan antar lawan jenis. Seperti ghadul bashar.  Allah SWT telah berfirman pada surat An-Nur ayat 30 :
  
 قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
                
Apakah hanya laki-laki saja yang harus menjaga pandangan? Pada surat Ash-Shafat ayat 48 Allah pun turut berfirman :
وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ

Artinya : “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.”
                 
Disini kita dapat membuat kesimpulan, jika ingin menjadi laki-laki yang baik atau perempuan-perempuan bertaraf bidadari surga dengan standar Al-Qur’an, sudah saatnya mulai kita menjaga pandangan. Mengapa pandangan yang penting? Karena sesuai kata-kata yang sudah populer ‘Darimata turun ke hati’. Dari hati nantisaling jatuh hati. Kalau udah jatuh hati nanti malah main hati. Waduh, bahaya kan? Tetapi memang sudah menjadi fakta ketika suatu hubungan tidak disertai komitmen yang jelas pasti akan mudah untuk kandas  di tengah jalan.

Selain itu, secara logika pun pacaran amat merugikan para pemuda-pemudi yang sudah disibukkan kegiatan sehari-hari. Sebutlah Bang Joko, sudah lelah sehabis kerja part-time di salah satu pom bensin masih harus mengatar pacarnya ke salon terdekat. Atau Amat, sudah lama-lama dimarahi guru karena lupa mengerjakan PR masih harus juga didamprat pacarnya yang kecapekan nungguin dia di tempat ketemuan. Juga Susilawati, terlalu asik smsan dengan sang kekasih, hingga enggan membantu ibu memebli sayur ke warung depan. Kita lihat begitu besar dampaknya pacara, menguras tenaga, mengorbankan perasaan, bahkan sampai durhaka pada orang tua.  

Bagaimanapun juga, semua ada saatnya. Sebagaimana yang sering disebutkan para guru, cinta pada lawan jenis itu wajar, kalau sama sesame jenis baru gak wajar. Kalau saatnya sudah tiba, secara lahir dan batin kita sudah siap berkomitmen dengan si dia, malah islam mengharuskan para pemudanya untuk bersegera melangsungkan akad nikah. Sudah saatnya para pemuda menghayati cinta antara Fathimah r.a dengan Ali bin Abi Thalib yang sampai setasn pun dikisahkan tidak mengetahui cinta antara mereka berdua saking menjaga persaan masing-masing. Pada akhirnya, mereka berdua melangsungkan pernikahan yang sederhana, namun menjadi sebuah keluarga yang begitu bahagia. Semua hanya satu soal, yaitu mencoba menjaga pandangan dan persaan sebagaimana doa Ali bin abi Thalib pada saat masih muda

Yaa Allah kau tahu hati ini terikat suka akan indahnya seorang insan ciptaan-Mu.
Tapi aku takut, cinta yang belum waktunya menjadi penghalang ku mencium surga- Mu.
Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini, sampai tiba waktunya,
andaikan engkau pun mempertemukan aku dengannya kelak.
Berikan aku kekuatan melupakannya sejenak.
Bukan karena aku tak mencintainya
Justru karena aku sangat mencintainya
               
  
         Pemuda-pemudi memiliki banyak sekali kelebihan, penulis sangat percaya akan hal itu. kelebihan-kelebihan itu justru ada untuk dikembangakan, bukan untuk dibuat tumpul dengan cinta-cintaan yang hanya menghabiskan perasaan. Terlebih jika kelebihan-kelebihan tersebut diiringi dengan ketaatan pada Allah dan perintahNya, tentu kebaikan-kebaikan yang menggunung tersebut akan menjadi lebih berkah. Dan apakah ada yang akan menghalangi sebuah keberkahan jika allah sudah meridahinya?






Minggu, 21 September 2014

Penghayatan Terhadap Nilai - Nilai Sejarah



                Sudah menjadi rahasia umum bahwa degredasi moral menjadi salah satu momok penyakit mental yang sedang gencar-gencarnya menimpa para pemuda bangsa Indonesia. Meningkatnya angka aborsi di kalangan remaja putri, westernisasi yang diagung-agungkan, sampai gaya hidup yang bertolak belakang dengan rasa tradisi bangsa Indonesia menjadi berhala-berhala kecil di tengah masa-masa pencarian diri dan pembuktian pada sesama di kalangan pemuda khususnya remaja yang baru menjejak masa-masa awal kedewasaan.
                Sebagai salah satu media sosialisasi, sekolah sebagai tempat para pemuda meluangkan waktu sehari-harinya di sana memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik mental para pemuda tersebut, sekaligus mewariskan nilai-nilai dan norma sosial yang telah dirumuskan oleh para pendahulu bangsa. Adalah sebuah harga mati untuk menjadikan para pemuda bangsa memiliki semangat serta rasa nasionalisme yang tinggi hingga dapat menjadi benteng-benteng pertahanan juga penerus tongkat estafet yang mumpuni, sehingga penjajahan di atas bumi Indonesia dapat dihapuskan secara paripurna hingga ke setiap sendi-sendi kehidupan bangsa.
                Semangat cinta kepada tanah air ini tidak mungkin dapat diwariskan secara instan sehingga tercipta insan yang siap membela negara dengan segenap tumpah-darahnya begitu saja. Untuk dapat mencintai bangsanya, seorang pemuda tentu harus mengenal bangsanya terlebih dahulu. Pengenalan kepada bangsa memiliki makna yang amat luas, termasuk di dalamnya sejarah berdirinya bangsa tersebut atau pun nilai-nilai yang telah dirumuskan oleh para pelopor bangsa.  Nilai-nilai tersebut tentu dapat diberikan di sekolah, terlebih pada pelajaran sejarah dimana perjuangan bangsa menjadi materi-materi yang wajib untuk dipelajari di kelas. Namun, kecintaan seseorang kepada bangsanya tidak hanya dapat ditunjukkan dengan grafik-grafik nilai semata. Nilai-nilai LKS yang lebih tinggi tidak dapat menjamin seseorang lebih siap membela bangsanya dibandingkan dengan nilai-nilai yan lebih rendah.
                Dikarenakan hal tersebut, adalah menjadi salah satu hal yang fundamental penanaman rasa cinta kepada tanah air ini. Ketika seorang pemuda dapat menghayati perjuangan Pangeran Diponegoro ataupun Tuanku Imam Bonjol pada perang-perang yang berlangsung melawan kolonial Belanda, ataupun penderitaan para pekerja romusha untuk pemerintah Jepang sudah barang tentu dalam kehidupan sehari-harinya pun ia akan menghargai tiap embusan kemerdekaan yang ia nikmati sekarang. Ketika seorang pemuda menghayati perjuangan para pendahulu bangsa di meja diplomasi, menjadi salah satu negara pencetus Gerakan Non Blok, sudah barang tentu ia tak akan malu mengenakan identitas-identitas yang mencirikan kebudayaan Indonesia. Ketika seorang pemuda menghayati perjuangan Wage Rudolf Supratman, yang bahkan pada saat pertama kali diperdengarkan lagu Indonesia Raya hanya dapat dengan media biola, maka tak ada batang kepala para pemuda yang berani tidak menunduk ketika mendengar lagu Indonesia Raya dilantunkan.
                Dengan mengenal Indonesia secara lebih dekat, akan terbentuk hubungan emosional yang lebih erat dengan bangsa dan para pendahulunya. Hal ini menjadi benteng yang paling mendasar dalam menghadapi arus globalisasi dimana penyeleksian budaya-budaya asing lebih ditekankan kepada individu-individu sendiri. Cara pengajaran yang lebih medominasikan pada hafalan tanggal-tanggal ataupun teks pada buku-buku paket saja tidak lagi relevan dalam menghadapi tantangan zaman saat ini. Tentu, memdapatkan nilai-nilai yang sesuai dengan tuntutan sekolah atau penyelesaian materi-materi yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan itu penting, namun diatas itu semua penghayatan terhadap nilai-nilai sejarah kepada para pemuda jauh lebih penting, mengingat para pemudalah yang kelak akan menjadi pancang-pancang kesejahteraan dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.       

Minggu, 07 September 2014

Mudik : Perjalanan Panjang Kaum Urban Indonesia

Kecelakaan yang marak terjadi. sumber: dokumen pribadi

truk yang nyungsep ke dalam hutan


Walaupun sudah berlalu agak lama momeni ni, tetapi penulis tetap tergelitik untuk menuliskan dan membagi pikiran-pikiran penulis pada khayalak semua. Karena mudik adalah salh satu momen penting, yang ditunggu sejuta umat di Indonesia.

Mudik, adalah budaya yang mengakar pada muslim Indonesia, dimana mereka yang merantau jauh dari tanah kelahiran pulang untuk sungkem setiap Hari Raya Lebaran. Momen ini juga di tunggu oleh anak-anak yang sudah kengen dengan saudara-saudara jauhnya ataupun para orang tua yang sudah uzur untuk melihat buah hati dan cucu-cucu mereka berkumpul meramaikan rumah yang sepi sepanjang tahun. Tentu dengan bumbu-bumbu parahnya kepadatan lalu lintas dan meningkatnya jumlah kecelakaan di jalan secara drastis disbanding hari-hari biasa.

Sebagai salah satu momen yang menasional, sudah barang tentu momen mudik ini mennjadi salah satu wajah budaya di Indonesia, terlebih dengan meningkatnya angka para perantau yang mengadu nasib di Jakarta, terlepas dari berhasil atau tidaknya mereka menundukkan ‘kerasnya’ ibukota.
Sebagai salah seorang anak para perantau, saya mencoba menggali kelebihan dan kekurangan mudik ini lebih dalam. Pertama, kebanyakan penduduk Indonesia menganggap mudik sebagai penjalin tali silaturahim antara keluarga, kerabat, atau saudara-saudara dekat. Hal ini bisa kita lihat di banyak daerah ketika usai shalat Ied bersama dilakukan kegiatan keliling kampung guna mengunjungi tetangga-tetangga lama atau sanak kerabat yang dekat. Setelah 2 atau 3 hari setelah lebaran, para pemudik sering kali berkeliling ke kampung-kampung yang lebih jauh untuk mengunjungi kerabat-kerabat atau para sesepuh  yang telah uzur. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa hal ini tidak dilakukan di lain waktu? Bukankah sudah menjadi kewajiban dalam agama untuk menyambung  tali silaturahim?

Momen yang tepat, begitu jawab beberapa orang. Beberapa mengatakan mereka tak punya waktu lain, selain pada saat lebaran tersebut. namun sungguh sesuatu yang naif ketika mereka yang mengaku sibuk masih bisa meluangkan waktu untuk piknik bersama kantor, bermain outdoor, atau reuni-reuni kawan sealmamater. Padahal sudah jelas bahwa yang paling di nanti oleh para orang tua bukanlah kiriman ptotngan gaji, tetapi kehadiran sang anak yang kini sudah pergi jauh. Mengapa tak meluangkan sehari atau dua hari dalam sebulan, dan hal ini pun bisa menjadi momen yang menyanengkan bagi para cucu untuk mengenal kakek dan neneknya? Alasan ini penulis anggap sebagai alas an yang kurang logis.

Selain alasan diatas ada lagi alasan yang lebih klise. Uang. Kekurangan uang untuk mudik, sehingga harus  menunggusetahun atau bahkan 2 tahun untuk pulang kampung. Biaya yang banyak untuk modal transport berikut oleh - oleh untuk tetangga di rumah menjadi alasan yang tak kalah penting. Dalam hal ini saya sendiri menjadi berpikir. Di tengah derasnya arus urbanisasi, mereka memilih untuk tinggal di kota dibanding tinggal di kampung halaman. Lapangan kerja makin sempit, teriak mereka. Uang saja masih pas-pasan untuk hidup, apalagi buat pulang kampung sering-sering, keluh yang lain. Memang telah menjadi fakta di dalam pernak-pernik problema Indonesia tentang tingginya arus pindah “para perantau’ yang berbanding lurus dengan meneyempitnya lapangan kerja di kota.menyelesaikan masalah ketimpangan kepadatan penduduk ini sudah barang tentu menjadi tugas para pejabat kita yang terhormat unutk mengmbil kebijkan-kebijakan yang bermutu. Jika hal ini bisa diatasi, rasanya bukan lagi menjadi mimpi melihat jalanan antar provinsi yang lancar setiap tahun.

Apapun yang terjadi, baik di lingkup masyarakat urban maupun para birokrasi di tempat masing-masing, perantau adalah perantau. Mereka memilih  yang untuk mengadukan peruntungan harus bersiap juga mengahdapi kenyataan, walaupun harus ditebus dengan tak berpulang-pulang berbulan-bulan ke kampung tercinta. Sehingga mudik, dianggap momen sakral bagi para kaum urban untuk melepas penat sejenak dari kerja keras kehidupan di kota, menuju pelukan kedua orang tua yang damai nan menentramkan. Penulis hanya membayangkan, jika mudik yang bahkan sudah dianggap budaya bagi sebagian orang ini dihilangkan, turut menghilang juga angka-angka kecelakaan yang fantastis, tingginya volume kendaraan tiap tahun, juga anggaran perbaikan jalan yang rutin digelontorkan pemerintah untuk membenahi jalan. Mungkinkah? 

Selasa, 12 Agustus 2014

Orang tua : Anugerah Terindah




sumber : http://www.scoopweb.com/The_Simpsons_(season_20)
Masih di rumah sakit, sendirian menunggu orang tua balik dari mengunjung salah satu teman ayah. Sempet didatengi salah seorang karyawan rumah sakit, disuruh tandatangani ini-itu. Karena gak ngerti akhirnya nunggu ibu datang saja, hahaha. Sebagai seorang anak, memang ane belum bisa berbakti kepada orang tua. Dan sebenarnya masalah orang tua ini punya kisah tersendiri dalam hidup ane, dalam hidup kita semua.

Dari kecil, ane anak yang dimanja dan selalu dapat perlakuan yang ‘lebih’ dibanding kakak ane. Ane yang cuman 2 bersaudara akhirnya sering rubut dan marah-marahan. Tetapi, karena ane anak yang lebih kecil, jadi lebih banyak dibela, hehe.  Dari dulu sampai sekarang, ane memang paling gak bisa jauh dari ibu.
Tetapi, seiring ane makin besar, mulai puber, ane mulai ngelakuin ‘pemberontakan kecil-kecilan’ sama ibu ane. Hampir tiap malem ane dipanggil ke kamar ibu karena ada saja masalah yang ane buat, dari mulai males mandi sore sampai belum nyuci piring. Memang pada saat itu ibu ane lagi sibuk-sibuknya, dan ane juga malah gak peduli sama keadaan ibu, hingga hubungan ibu-anak ini sempat meregang. Puncaknya adalah ane memilih pesantren sebagai ‘pelarian’ ane.

Pada awalnya ibu dan ayah rada keberatan, menilik dari keluarga besar ane belum ada yang sekolah di pesantren. Namun dengan seiringnya waktu akhirnya kedua orang tua ane menyetujui. Dimulailah hunting pesantren tersebut. Dengan sabarnya orang tua ane mengajak melihat-lihat dari satu pesantren ke pesantren lain, sampai akhirnya ane menemui  calon sekolah ane, SMPI Nurul Fikri Boarding School Lembang.

Awal-awal masuk, ane lalui dengan gembira. Ketika kawan-kawan ane bersedih ria, ane sudah tertawa-tawa keliling kompleks pesantren yang memang masih dalam tahap pembangunan. Merayakan kebebasan, mungkin itu kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hati ane pada saat itu. Samapi semua keceriaan itu pecah ketika ane mendapat kunjungan pertama dari ibu dan ayah ane. Setelah beliau-beliau pergi, ane mulai merasakan kehilangan akan keberadaan kedua orang tua. Ane nangis seharian diatas ranjang. T_T

Sejak kejadian itu ane mulai sedikit demi sedikit tersadar, bahwa mungkin tak selamanya ane memiliki kedua orang tua ane. Semua dari kita sudah terikat kontrak dengan yang namanya kematian, dan tidak ada yang menjamin penundaan hal tersebut. Mungkin sehari, dua hari, atau bahkan setelah membaca post ini kita ‘dipaksa’ menghadapinya. Ane jadi lebih sering  berpikir dan mencoba menghargai tiap-tiap waktu yang ane lalui bersama kedua orang tua ane.  Sampai sekarang pun, setelah ane naik kelas dan pindah sekolah ke serpong, ane selalu mempunyai kebiasaan khusus, yaitu menunggui punggung ibu dan ayah ane di balik gerbang, memandang punggung keduanya hingga tak terlihat di kelokan jalan setelah kunjungan berakhir. Hal itu ane lakukan semata-mata karena tak ingin menyesal di kemudian hari, jika pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir ane dengan beliau-beliau.

Kawan, sering kita merasa perlakuan orang tua tidak adil terhadap kita. Merasa tak dihargai sebagai anak, atau merasa tak dipedulikan mungkin pernah kita alami. Bahkan dulu ane sempat berpikir bahwa memiliki orang tua adalah sebuah kutukan, dimana kita punya hutang budi yang tak bisa kita bayar. Namun kawan, hutang budi yang tak terbayar itulah bukti cinta kasih orang tua pada kita.

Seiring umur bertambah, kita mulai mengenal dunia. Main bersama teman sampai malam, hingga pulang dimarahi. Atau melakukan kekonyolan-kekonyolan lain yang membuat cemas hati orang tua kita. Kita anggap itu sebagai pelampiasan anak muda, atau sebuah pencarian jati diri dengan mencoba hal-hal yang sudah jelas menimbulkan kecemasan dihati orang tua kita. Namun ingat kawan, semakin kita besar, makin sedikit waktu yang kita miliki, termasuk waktu untuk bersama kedua orang tua kita.

Ridhallahi ridha walidain wa sukhtullahi sukhtu walidain. Dan banyak lagi ayat-ayat dan hadist yang menjabarkan hal tersebut. Ketika kita merasa berat menjalankan perintah kedua orang tua kita, ingatlah satu hal, bahwa mungkin permintaan itu adalah permintaan terakhir yang bisa kita laksanakan untuk beliau-beliau. Kita semua tidak ingin bukan menangis penuh penyesalan di kemudian hari karena ego kecil kita terhadap orang tua? Maka selagi sempat, minta maaflah kepada kedua orang tua kita, selagi sempat, selagi ada waktu. Laksanakanlah hal-hal yang beliau minta, hingga kelak kita akan merasakan kembali sebuah keluarga yang hangat penuh keharmonisan, di dunia maupun di akhirat.

Rabu, 23 Juli 2014

Cerita Si Pengembara

sumber : fineartamerica.com


Dahulu kala hiduplah seorang pengembara yang tak bernama. Ia mendatangi desa-desa satu demi satu, menyusuri curamnya lembah di tengah kabut, maupun berjalan ditengah teriknya matahari gurun.  

Pengembara tanpa nama ini tak terlalu dikenal oleh masyarakat awam, yang tanpa mereka ketahui selalu berbuat baik di setiap desa yang ia lalui. Sebut saja desa-desa yang kalian tahu, maka pasti, dalam satu masa pada sejarahnya dimana sebuah persoalan pelik tiba-tiba terselesaikan begitu saja. Rangkaian pencurian, banjir karena tanggul yang hancur, ataupun jalan dan jembatan yang terputus, terselesaikan begitu saja.

Pengembara ini tidak dikenal namanya karena ia memang tak ingin dikenal luas oleh masyarakat. Ia hidup bersama untaian daun yang berguguran dan gemerisik angin yang sejuk. Ia seolah terlahir begitu saja, tanpa asal muasal ataupun sebuah nama. Semua karena ia mengetahui bahwa suatu saat ia akan pergi, maka tak perlulah sebuah nama baginya.

Sampai suatu saat tak jauh sebuah desa ia melepas penat. Ia duduk disebuah akar pohon apel yang dahannya begitu menjulur hingga buahnya dapat dipetik dengan sangat mudah. Ia mengambil tempat air dan hendak meminum airnya, yang kemudian ia dapati tingal tersisa beberapa bulir air. Akhirnya si pengembara memutuskan untuk singgah di desa yang berada di depannya.

Ketika ia melangkah masuk ke gerbang desa, ia menemukan desa yang ia masuki sangat sepi. Terlalu sepi. Sepanjang ia memandang, tak terlihat seorangpun lalu lalang. Toko-toko yang berjajar sepi, terlihat banyak bekas losmen yang papan namanya mulai copot. Satu dua bar yang sudah tak bertuan berada di sisi jalan. Dahulu pasti desa ini ramai oleh pengunjung, benak si pengembara. akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam salah satu rumah, untuk mencari tahu apakah masih ada penduduk atau sebuah tanda-tanda kehidupan.

Tak sampai 5 langkah, teerdengar sebuah teriak
“Hai orang asing! Angkat kakimu dari desa ini!”
“Pergilah orang asing, jangan bawa kutukmu pada kami!”
“Kami tak sudi menerima para pembawa kutukan ke tempat kami!”

Pengembara itu teramat kaget mendengar teriakan-teriakan tersebut, yang disusul oleh teriakan-teriakan lain. Mulai muncul moncong-moncong senapan dari balik tembok, pintu maupun lubang-lubang yang terlihat sengaja dibuat. Pengembara mencoba menenangkan dirinya, dan dengan lantang berkata,
“ Hai manusia, sungguhpun aku tak membawa kekotoran sedikitpun, selain debu yang kubawa dalam perjalanan yang ku tempuh. Sediakah kalian memberiku sepotong cerita akan hal yang kalian takutkan? Atau biarlah angin membawa pergi aku yang utuh bersama sepotong roti dan air untuk melepas dahaga”

Tak lama kemudian, muncul seorang yang telah terbungkuk-bungkuk membawa sebuah mangkuk minuman. Di tangan yang lain dipengangnya sekerat roti.
“Hai pengembara, sungguhpun kami tidak membawa kekotoran sedikitpun, selain kekhawatiran yang menggantung di pelupuk mata. Terbilang 1 tahun yang lalu datang seorang pengembara sepertimu, meminta hal yang sama sepertimu, bahkan mengatakan hal yang sama sepertimu, dan sayangnya kami idahkan. Sang pengembara memberi sumpah bahwa negeri ini tak akan mendapat kedamaian selamanya kecuali dikorbankannya satu jiwa diatas pelandu yang ia bawa. Akhirnya sejak saat itu kami ditimpa penyakit aneh, yaitu kekhawatiran yang teramat sangat hingga ternak tak lagi terurus dan dayur tak lagi tersiang. Banyak dari kami mencoba datang ke pelandu yang ditinggalkan sang pengembara namun tak mampu mendekati jua. Jikalau anda berkenan maukah anda mencoba mendekati pelanduk terkutuk? Sekerat roti dan semangkuk air ini moga meluluhkan hatimu atas keadaan kami”

“Sungguhpun anda hai saudara tua lebih membutuhkan hal tersebut, biarlah saya menyendiri dahulu untuk mengambil keputusan atas masalah pelik ini”

Malam pun datang, sang pengembara duduk diatas akar pohon apel yang ia datangi pada saat siang yang lalu. Ia menatap bintang untuk mencari kepastian. Ia berucap lirih:

“Sungguhpun obat daripada penyakit yang menimpa desa ini adalah nurani yang bersih”
Akhirnya ia beranjak pergi, meniggalkan tempat tersebut.

Pada saat yang bersamaan, para tetua desa bermaksud menyiapkan sebuah tipu muslihat. Mereka sengit mengadukan pendapat-pendapat mereka yang brilian. Sampai salah seorang tetua yang paling muda berkata, 

“Kita siapkan pembakaran di tengah kota, kita  penggal kepalanya dan bakar jadi abu. Abu pemuda tersebut kita terbarkan diatas pelandu, sedang tengkorak yang tersisa kita sampirkan di depan garda desa, supaya menjadi peringatan bagi tiap orang asing yang hendak berlalu-lalang.”

Para tetua yang lain kagum akan ide tetua muda tersebut yang terkesan brutal dan tak mengenal welas asih. Dendam mereka terhadap pengembara seolah tersampaikan dengan ide hebat tersebut. Akhirnya mereka setuju dan pulang ke rumah masing-masing dengan hati gembira.

Pagi menjelang, para tetua desa berkumpul, memastikan sang pengembara datang dari kisi-kisi jendela. Namun yang di tunggu tak datang jua. Karena merasa dipermainkan, akhirnya para tetua marah, para penduduk marah, bahkan para tikus-tikus dan para kucing-kucig turut marah. Sejak awal mereka berniat membunuh sang pemuda dengan mushlihat air dan makanan yang di beri racun, namun si pengembara menolak. Mereka menyiapkan pembakaran namun sang pemuda tak jua datang. Akhirnya mereka semua membawa obor, beriringan berniat memburu si pengembara dan membakarnya hidup-hidup.
“Hai penduduk desa! Sesungguhnya si pengembara tadi adalah salah satu dari para pembawa kutuk! Dengan gampangnya ia menghina kita dan mepermainkan kita! Tidak ada yang pantas menggantikan penghinaan ini selain dibakar hidup-hidup!” ,Teriak salah seorang dari kerumunan. Para pendudukpun makin terpancing amarahnya, dan bersegera mengemasi barang mereka, membawa obor-obor dan beriringan mencari si pengembara. Mata mereka takmenyiratkan apapun selain dendam dan amarah yang memuncak.

aku berhenti sejenak. Manatap wajah dari anak-anak kecil yang duduk-duduk di sekelilingku. Salah satu anak bertanya “ Apakah mereka berhasil menemukan si pengembara?”
Aku tersenyum kecil,”Mereka tidak pernah menemukan si pengembara, terlebih membakarnya hidup-hidup. Pelandu itu tidak pernah ada, sayangku, namun cerita itu beredar semenjak beberapa orang yang keluar desa tidak pernah kembali setelah diajak pergi oleh seorang asing. Mereka tak pernah tahu longsor yang menimpa rombongan tersebut mencegah mereka untuk kembali ke desa, dan memulai bisnis baru di desa sebrang. Para penduduk yang hilang akal mengarang-ngarang cerita tentang kutukan sang pengembara. Akhirnya para penduduk ketakutan dan tidak pernah keluar desa karena takut bertemu orang asing. Ternak mereka mati kelapar sedang tetumbuhannya menjadi gersang tak terawat. .”

Memang benar, pelandu itu sebenarnya tidak pernah ada, maupun sang pengembara yang mereka ada-adakan. Kemarahan telah membuat mereka berani keluar desa dan mulai menemukan jejak-jejak rombongan yang hilang. Akhirnya mereka menemukan rombongan yang hilang beserta kehidupan rombongan tersebut yang sudah berkecukupan. Mereka saling menerima, walaupun rombongan yang hilang bingung melihat bekas longsoran tersebut sudah tidak ada lagi, dan jalan sudah terbuka. Akhirnya desa mulai kembali terbuka dengan orang asing dan kembali ramai.

Cerita sang pengembara mulai dilupakan, digantikan dengan kisah-kisah keberanian rombongan yang hilang maupun keberuntungan yang membawa penduduk desa menemukan mereka. Tapi tak pernah ada yang tahu, bagaimana mereka bisa menemukan jalan menuju rombongan yang hilang ataupun melewati reruntuhan yang seharusnya menghalangi mereka dalam perjalanan, ataupun perginya pelandu di tengah kota yang mereka takutkan.  Tak pernah ada yang tahu, siapa yang berteriak di tengah kerumunan guna memancing amarah ataupun menyebarkan cerita tentang kepahlawan rombongan yang hilang.

Aku tersenyum melihat lagit sore, duduk di sebuah akar pohon apel yang 5 tahun lalu kududuki. Di sebelahku tersampir sebuah pelandu tua. Aku berkemas pergi, menyisakan sedikit cahaya yang bisa kubawa untuk desa ini.


Selasa, 22 Juli 2014

Mensykuri Sesuatu

Seharian penuh ane hari ini kagak puasa, terpaksa di infus. Ditengah waktu luang, sendirian di kamar sama tipi yang dibiarin nyala, ane jadi berpikir, mengapa ane harus dioperasi sampai diopname, padahalnya hanya penyakit kecil, penyakit yang juga sering menimpa teman-teman ane.

Ditengah kesendirian, mungkin Allah ingin memberikan ane waktu untuk berpikir sejenak, memikirkan banyak hal. Salah satunya membiarakan pikiran ane membayang sejenak ke masa-masa yang telah lalu. Ditengah perenungan ane, ane jadi berpikir, apakah karena sebelum-sebelumnya ane yang terlalu sombong sehingga Allah ‘menganugerahkan’ ane berbagai kesulitan ini? Akhirnya ane menyadari bahwa ane selama ini mememang jarang sekali mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Jarang ane mengucap hamdalah ketika dianugerahkan sesuatu, atau mengawali sesuatu dengan basmalah. Ane jadi terinngat salah satu ayat “jika kalian bersyukur, maka akan kami tambah nikmat kepadanya..”

Kawan, salah satu bentuk mensyukuri sesuatu adalah menghargai apa-apa yang telah kita punyai. Kita memang meminta boleh sesuatu, mengharapkan sesuatu yang lalu kita rangkum kedalam panjatan doa-doa kita. Bahkan hal ini dianjurkan olehNya, ‘ud’uunii fastajiblakum.. Namun, bukan berarti kita tak lagi menghargai apa yang kita punya. Memiliki obsesi perlu, namun memandang sebelah mata nikmat yang ada bukan pula perbuatan yang bijak.

Pernahkah sesekali kita berpikir sejenak, ditengah rehat atas hari-hari sibuk kita, akan nikmat-nikmat yang telah diberi olehNya? Membayangkan bahwa mungkin saja suatu saat nanti kita akan kehilangan nikamat tersebut?

Salah seorang guru ane pernah berkata “kematian adalah cermin yang baik bagi kehidupan kita.”  Mengapa? Karena kematian sebagai pembatas kita dengan semua yang telah kita nikmati dan perjuangan memberikan kita ruang kosong, dimana kita dapat berpikir kembali bahwa semua yang kita punya tidaklah abadi. Hingga kita sampai pada titik dimana kita menghargai apa yang telah kita punya selama ini. Keluarga yang hangat, pertemanan yang harmonis, lingkungan yang baik, badan yang sehat, dan sebagainya. Ketika kita merasa kehilangan, maka kita akan menyadari betapa berharganya sesuatu yang telah dianugerahkan itu, dan kita akan meghargainya.

Dengan menyadari sesuatu berharga, kita akan menghargai, dengan menghargai, kita akan mensyukri. Dan dengan mensyukuri kita akan bisa lebih menghargai dan memaknai hidup yang telah Allah berikan, sehingga hidup akan terasa lebih indah. Sahabat, semoga dalam perjalanan kita yang singkat di dunia ini kita dapat mendapati hakikat kehidupan kita, dan mengakhirinya dengan baik dengan mensyukuri setiap langkah yang telah diberikan oleh Allah.